Online sports betting_Crown Gaming_Baccarat Website_Betting_Sports online

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:GamblingHandicap

Temenmu mTexas Hold'emasTexas Hold'emih kuliah? Atau malah sudah keTexas Hold'emrja? SemTexas Hold'empet mikir kalau ternyata dia memiliki waktu yang terbatas demi mencari oleh-oleh yang seenaknya kamu minta? Cari oleh-oleh itu sama sekali nggak gampang lho, nggak ngasal, nggak sebentar. Waktu, itu sesuatu yang krusial dan jarang dimiliki apalagi oleh mereka yang tipe backpacker. Nitip oleh-oleh sama juga dengan menghabiskan waktu traveling mereka hanya untuk mencari pesanan kamu. Malas, kan?

Kamu sudah tahu di poin pertama ini apa yang salah? Kebiasaan mendiktemu itu yang salah. Kamu mau didikte? Bukan anak kecil lagi toh? Yaudah, sama. Kalau kamu memang teman dekatnya, kalau kamu memang sahabatnya, percayalah, mereka pasti memberimu “jatah” oleh-oleh tanpa kamu mendikte atau bahkan mengemis padanya? Pikirin lagi.

Lagipula nih ya, selain pengalaman, keselamatan yang mereka peroleh juga jauh lebih berharga dibanding oleh-oleh yang dibawa. Setuju kan? Adakah sesuatu yang lebih membahagiakan dibanding melihat temanmu pulang dengan selamat usai traveling? Kalau kamu nggak setuju, kamu yang kudunya mikir kamu ini teman macam apa -_-

Jadi, apakah kamu tipikal orang yang suka meminta oleh-oleh pada temanmu ketika mereka traveling? Think again yuk. Sekarang, coba kamu posisikan diri pada posisinya, ya posisi kawanmu yang pergi melancong itu.

Nanti, pada akhirnya kita akan sampai pada kesimpulan bahwa kebiasaan burukmu meminta oleh-oleh itu patut diihilangkan. Hah? Kebiasaan buruk? Seenaknya aja ngatain orang! Sabar, disini kita bakal breakdown satu-satu mengenai apa yang salah dari seorang-yang-ngakunya-kawan-menitip-cindera-mata-pada-kawannya-yang-sedang-berpelesir. Kamu nitip oleh-oleh sambil ngasih duit aja masih salah lho, apalagi nggak ngasih duit alias cuma berharap si kawanmu itu menyisihkan waktu dan materi buat menuhin permintaanmu itu. Aduh Gusti!

Karena kebetulan temenmu itu tadi berduit dan sayang sama kamu (ciyeee sayang -.-), dia pun berbaik hati membawakan “pesananmu” yang banyak banget itu. Alhasil apa? Karena kamu sudah kenyang dengan segala cerita pengalamannya, ditambah sudah banyak tahu tentang oleh-olehnya, kamu nggak bakal punya keinginan untuk mengunjungi tempat tersebut lagi. Motivasi kamu langsung hilang seketika untuk mengikuti jejak temanmu yang sudah kesana. Kamu sudah cukup puas dibawakan kopi Toraja, dan lain-lainnya tadi. Kamu bahkan nggak ingat nabung untuk bisa pergi kesana. Kasian ya, kamu!

Begini nih, jangan pernah salahkan teman kamu ketika pada akhirnya mereka selalu diam-diam saat melakukan perjalanan. Kenapa? Cuma satu alasan, mereka malas ditagih oleh-oleh kanan kiri yang buat mereka ya nggak penting sama sekali. Kualitas pertemanan nggak bisa dinilai dari oleh-oleh yang dia bawa kan? Kalau kamu mikir gitu ya dangkal banget. Lalu, kalau nggak dibagi oleh-olehnya, dia dibilang pelitlah, itulah. Padahal daftar permintaan oleh-oleh mereka udah sepanjang jalan kenangan. Hiks!

Oleh-oleh dibeli bukan pakai daun kan? Pernah mikir gini nggak, temenmu itu kerja keras selama ini nabung buat biayain perjalanan impiannya itu. Selama bertahun-tahun. Mereka pun bakal menghemat budget seminimal mungkin untuk melakoni misi travelingnya itu. Bukan nggak mungkin kan kalau mereka nggak punya uang lebih untuk membeli oleh-oleh pesanan kamu?

“Ahh jangan pura-pura gitu ah. Dapet tiket promo berarti murah dong. Trus kita temen kan, jangan lupa bawa oleh-oleh ya. Sari gitu misalnya, atau baju kurti, sama manisan juga dong. Ehmm sama apalagi ya?”

Jadi, masih mau ngerepotin temenmu yang lagi traveling?

Traveling itu nggak hanya sekadar foto-foto dan belanja di tempat wisata,bukan pula hanya ke luar negeri atau ke kota besar yang banyak mallnya. Karena yang namanya traveling, jauh lebih dari itu. Buat mereka, para traveler itu, yang seringkali lebih penting ialah perjalanan itu sendiri, bukan destinasi tujuan mereka. Sebab, buat mereka proses jauh lebih penting daripada hasil. Pengalaman dan suka-duka dalam perjalanan itu jauh lebih bermakna dibanding oleh-oleh itu sendiri.

Ya emang sih, kebiasaan ini tuh Indonesia banget. Jadilah tipikal orang Indonesia yang lekat dengan oleh-oleh memang susah dihilangkan. Bepergian tanpa membawa pulang oleh-oleh pun seakan sudah mendarah daging jadi kultur masyarakat kita. Makanya, yuk mari pelan-pelan kamu-kamu sekalian harus diubah pola pikirnya mengenai oleh-oleh tadi. Kalau kamu bisa memposisikan diri sebagai traveler juga, kamu pasti paham kenapa kamu dilarang meminta oleh-oleh pada mereka.

“Ndin, kamu mau ke India ya abis lebaran?”

Awalnya bisa jadi kamu pengen ikut temenmu pergi ke Makassar, pengen nyobain coto Makassar dan sop konro langsung di tempatnya. Tapi, berhubung ada masalah keuangan atau kendala waktu yang bener-bener nggak bisa luang, kamu pun harus rela ditinggal kawanmu untuk duluan traveling kesana. Karena kamunya pengen banget, kamu pun nitip oleh-oleh ke kawanmu tadi. Minyak tawon, sirup markisa, kopi Toraja semuanya kamu request.

banyak yang lebih penting dari sekadar foto dan belanja via i.huffpost.com

Nah, kalau yang ini terjadi pada kasus bepergian dengan pesawat terbang dimana setiap penumpang hanya mendapatkan free bagasi antara 20-30 kg (tergantung maskapai/kelas penumpang). Jadi? Sudah kepikiran merepotkannya bagian mana kan? Tentu saja ketika gara-gara oleh-oleh yang kamu pinta itu jadi menambah beban biaya tambahan yang harus dibayar temanmu. Mereka saja lho belain-belain buat bawa barang sedikit mungkin agar muat masuk ke kabin. Masa kamu tega mereka memesan bagasi hanya demi oleh-olehmu?

Biasanya sebelum traveling, para traveler itu sudah punya itinerary plus anggaran dana terkait apa-apa aja yang kudu dia bayar nantinya. Kenang-kenangan buat diri sendiri aja biasanya dia nggak mikir, selain pengalaman itu sendiri, lha kok disuruh mikirin oleh oleh buat kamu. Kamu kira murah hah? Apalagi kalau di kurs kan dengan dollar. Sudah mulai mikir?

Tiap orang itu punya kebutuhan, yang nggak selalu diketahui seseorang yang lainnya. Pun begitu dengan kawanmu, mereka butuh untuk membelanjakan uangnya. Terutama kebutuhan yang penting-penting. Setelah itu memikirkan orang terdekat, seperti keluarga misalnya. Baru memikirkan orang lain. Skala prioritas tahu kan? Nah, kalau oleh-olehnya nggak cukup gimana? Kamu kecewa pastinya. Itu sebabnya nggak usah berharap oleh-oleh dari temanmu, ya. Bikin penyakit hatimu nambah entar, yang dosa kamu. Jangan…

Hal-hal yang seru seperti itinerary, rute dan berbagai tempat tujuan tentu akan menambah wawasanmu soal satu daerah. Dan jadi bekal berharga kala kamu memutuskan mengikuti jejak mereka untuk menjelajah daerah itu. Pengalaman mereka akan menjadi sesuatu yang berharga dan abadi karena bermanfaat bagi orang lain. Oleh-oleh bisa hilang dan rusak, pengalaman tidak.

(((pura-pura mati)))

Mereka yang sering traveling, juga sering dituduh sebagai seorang yang tajir, yang kerjanya jalan-jalan melulu. Padahal, bisa jadi traveling memang tujuan hidup mereka, prioritas mereka. Mereka rela ngirit buat makan dan nggak pernah belanja baju, tas dan lain-lainnya demi nabung buat traveling. Dan saat traveling, tujuan mereka pun tak hanya untuk bersenang-senang. Itu yang harus kamu garis bawahi. Ada yang bepergian karena memang harus. Sejenak meninggalkan rutinitas dan butuh pembaharuan. Ingin menenangkan pikiran sejenak dari rutinitas mereka yang menjenuhkan. Oleh-oleh hanya sekedar bonus dari kegiatan travelling. Bahkan ada juga kan yang harus bepergian demi urusan bisnis atau urusan keluarga? Nggak lucu kan kamu minta oleh-oleh pada temanmu sementara dia berkabung karena neneknya yang di kota lain tiada? *sigh*

Mereka sudah pasti tahu harus meninggalkan destinasinya itu. Apalagi yang kerja, cutinya pasti terbatas. Dan dengan waktu singkat yang mereka miliki itu, mereka juga sudah miliki agenda tersendiri mau dibawa kemana aja sepasang kakinya. Menurut mereka, pengalaman mereka melihat dunia teramat jauh lebih berharga dibanding ngebuang waktu memilah oleh-oleh buat kamu.

“Kata siapa?” *pasangtampangsepolosmungkin*