Lottery betting_Baccarat Technology_Crown Football Betting Network_Indonesia Lottery Official Version Download_Blackjack card

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:GamblingHandicap

Online gambling gameskitOnline gambling gameOnline gambling gamessa memang Online gambling gamesharOnline gambling gamesus total dalam bekerja. Memang harus berusaha memberikan sebaik-baik performa.

Yup. Temanmu benar. Yang namanya kerjaan sih nggak akan pernah selesai. Kalau selesai satu, muncul satu lagi yang harus diselesaikan. Begitu seterusnya. Jadi jangan mengikuti ada/tidaknya pekerjaan. Kamu sendiri yang harus mengatur wkatumu. Buat limitmu sendiri. Misalnya buat target hari ini apa aja yang harus kamu selesaikan, dan berusahalah mencapai itu. Selain itu, kerjakan besok.

Kamu mungkin beralasan sedang mengejar klien potensial yang kalau kamu berhasil mendapatkannya kamu akan mendapat bonus yang lumayan. Klien memang penting, tapi keluargamu di rumah juga penting. Mereka juga butuh waktu untuk bersamamu. Jangan mencintai pekerjaanmu lebih dari kamu mencintai keluargamu. Apalagi mencintai kantor. Karena jika suatu hari nanti kamu sakit atau jatuh, apa klien atau kantor yang akan menolongmu? Nggak akan. Keluargamulah yang akan ada di sisimu dan berusaha mendukungmu saat kamu jatuh.

Totalitas dalam bekerja memang perlu untuk perkembangan kariermu ke depannya. Tapi itu tidak berarti kamu harus menyerahkan seluruh waktumu untuk kantor. Ini dia alasannya!

Sementara dari kacamata perusahaan beda lagi. Mereka selalu berusaha mencari untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Untuk apa mereka mempekerjakan orang baru, jika kamu terbukti bisa meng-handle semua itu?

Tapi kalau kamu belum sadar, perusahaan senang-senang aja sih kalau kamu rajin bekerja sampai di luar jam kerja tanpa dibayar. Jelas itu akan menambah keuntungan perusahaan. Tapi ingatlah bahwa kamu bukan robot pekerja, dan kamu nggak perlu memberi keuntungan lebih ke perusahaan.

Tumpukan kerjaan dan deadline membuatmu merasa biasa saja menghabiskan waktu lebih dari 8 jam sehari untuk pekerjaan. Itu belum termasuk hal-hal lain yang sebenarnya masih termasuk urusan kantor namun harus kamu kerjakan di luar kantor alias di rumah.

Dalam dunia kerja, pola yang seharusnya terjadi adalah take and give. Kamu memberikan sebanyak apa yang perusahaan berikan padamu. Gaji yang diberikan padamu tentunya sudah dipikirkan baik-baik oleh perusahaan, mempertimbangkan  kualitasmu serta seberapa banyak yang mungkin bisa kamu berikan untuk perusahaan.

Kamu memang membutuhkan pekerjaan ini. Dan mungkin kamu berharap kantor akan senang kalau kamu rajin. Dengan demikian kamu akan bertahan lama di sana. Tapi ingatlah satu hal, bahwa perusahaan juga membutuhkanmu. Hargailah kemampuanmu.

Bekerja adalah caramu berkarya dan memenuhi kebutuhan hidup. Anggaplah bahwa bekerja adalah satu bagian dari kehidupanmu, dan jangan melupakan bagian-bagian lainnya. Kamu punya keluarga yang menunggu-nunggumu di rumah, dan kamu juga punya teman-teman yang mungkin hanya bisa kamu temui di akhir pekan. Nikmatilah itu semua, dan berhentilah memusatkan hidupmu untuk pekerjaan semata.

“Ntar dulu ini belum kelar.”

Sekarang jujurlah pada dirimu sendiri. Kerajinanmu dan kesediaanmu bekerja diluar jam kerja tanpa dibayar jelas menguntungkan kantor. Karena hasil kerjamu perusahaan berhasil menggaet klien potensial yang bisa melipatgandakan keuntungan. Tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang kamu dapatkan dari itu semua? Apakah bonus kecil yang mereka berikan padamu setimpal dengan usaha dan waktu yang kamu gadaikan untuk mereka?

Mungkin selama ini perusahaan tempatmu bekerja termasuk perusahaan yang sering memberikan fasilitas ke karyawannya. Tunjangan kesehatan, outing sebulan sekali, bahkan liburan bareng tiga bulan sekali. Karena mendapatkan itu semua, terus kamu merasa nggak enak kalau kerja mulai jam 9 tepat dan pulang teng-go. Jangan pernah merasa perusahaan memberikan lebih dari yang seharusnya, karena nyatanya memang tidak. Tunjangan kesehatan itu kewajiban, sedangkan dana senang-senang memang sudah seharusnya diberikan kantor untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan. Asalkan kamu melakukan semua tugasmu dengan baik, semua sudah terbayar. Toh, itu ‘kan tugas utamamu sebagai karyawan?

Mungkin kamu terjebak dalam situasi seperti ini. Awalnya kamu berkorban mencover sebuah pekerjaan yang bukan pekerjaanmu. Mungkin karena pekerjaan itu akan mempengaruhi hasil pekerjaanmu juga. Jadi nggak apa-apa deh sementara kamu ngerjain itu dulu sampai nanti ada orang yang handle. Sekali-kali nggak apa-apa, tapi kalau terus-terusan?

Coba ingat-ingat saat kamu mendapat tawaran pekerjaan dahulu. Kalau kamu lupa, coba buka kontrak kerja yang kamu punya. Di sana sudah tertera kesepakatan antara kamu dan perusahaan mengenai gaji, detil pekerjaan yang akan kamu lakukan, juga jam kerja di perusahaan tersebut. Sesuai Undang-undang Ketenagakerjaan, jam kerja umumnya 7-8 jam/hari dan maksimal 40 jam/minggu. Kalau perusahaan selalu menggajimu sesuai jumlah yang tertera di kontrak itu, kenapa kamu harus repot-repot menambah jam kerja lebih dari yang kalian sepakati?

“Yaelah, kerjaan mah nggak pernah ada habisnya.”

“Kok nggak balik, Bro?”

Untuk kamu yang masih bekerja sampai jam 9 malam, dan masih ngurusin kantor di Sabtu Minggu sampai lupa makan dan kurang tidur, sekarang kembalilah ke alasan kamu bekerja. Jika alasanmu bekerja adalah untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, untuk apa kamu bekerja kalau kamu malah lupa makan saking sibuknya? Untuk apa kamu kerja keras kalau kamu bahkan nggak bisa bersenang-senang sedikit untuk menikmati hasil jerih payahmu di akhir pekan? Dan bagaimana kalau karena kelelahan dan kurang tidur kamu malah sakit? Uang hasil kerja kerasmu malah habis untuk ke dokter.

Bekerja sama dengan berkarya. Wajar jika kamu ingin memberikan yang terbaik dari apa yang kamu punya. Harapanmu, dengan begitu kepuasan akan kamu dapat. Perusahaan pun akan memberi nilai lebih kepadamu. Akhirnya, banyak dari pekerja yang rela bekerja sampai di luar batas waktu, bahkan meski itu tidak dibayar.

Tapi ini tak sama dengan memberikan seluruh waktumu untuk perusahaan. Kamu punya kehidupan juga. Bukankah kalimat “work hard, play hard” juga ada benarnya?