Sejarah Angkringan dari Desa Ngerangan Klaten, Kini Populer「Bookmaker Ranking」 di Yogyakarta Halaman 2

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:GamblingHandicap

PeBookmaker RankinBookmaker RankinggrkembaBookmaker Rankingngan angkringan Bookmaker Rankingsekarang tidak hanya di Indonesia. Gunadi dan Suwarna mengatakan bahwa ada mahasiswa dari Yogyakarta menjual angkringan di Jepang, Amerika Serikat, dan Swedia.

Pada 26 Februari Februari 2020, Desa Ngerangan resmi menjadi Desa Cikal Bakal Angkringan.

Dahulu yang hanya terikan ditambah juga makanannya seperti jadah (ketan) bakar, singkong, getuk, kacang, dan aneka sate.

Kepopuleran warung hik di Solo pada 1940-an akhirnya merambah ke Yogyakarta pada 1950an, baru nama angkringan lahir.

Pedagang angkringan beralih dari pikul menjadi gerobak pada 1970-an.

Kata angkringan sendiri lahir dari Yogyakarta. Selain angkringan, sebutan lainnya dari Yogyakarta adalah wedangan, warung koboi, dan sego kucing.

Banyaknya pendatang di Yogyakarta, membuat angkringan berekspansi ke luar Solo dan Yogyakarta. Hal ini terjadi pada era 1990-an hingga kini. 

Baca juga: Pelopor Angkringan atau Hik Wiryo Jeman Meninggal Dunia

Selain aneka lauk, ditambah juga nasi kucing. Kehadiran nasi kucing ini malah menggeser pamor terikan.

Macam-macam lauk dimasukkan dalam wadah dari daun pisang yang disebut takir.

"Ada yang menduga dari cara penjualnya menjajakannya dengan sahutan 'Hiyeek!'. Ada yang bilang pembelinya sendawa seperti itu. Versi lainnya saat penjual tersandung mengatakan 'hiyek!'. Jadi tidak pasti asal kata 'hik' itu," ungkap Suwarna.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

"Itu karena kalau kesandung air panas tumpah ke kaki, salah satu penjual yang membuat ide menggunakan gerobak. Baru jadi gerobak seperti sekarang tahun 1980an," tutur founder ikon Desa Cikal Bakal Angkringan.

Nama asal dari angkringan di Solo adalah warung hik. Asal muasal nama unik ini memiliki beragam versi.